Pergantian Tugu Cijulang Menjadi Panser: Simbol Kemajuan, Peringatan, atau Ujian Kesadaran?

Print Friendly and PDF



SuaraPeradilanNews.Net 

CIJULANG, Pangandaran — Oergantian tugu di Bunderan Cijulang dari simbol ikan dan jaring nelayan menjadi Panser Saladin memunculkan beragam respons di tengah masyarakat. Ada yang memandangnya sebagai ikon baru kebanggaan daerah, ada pula yang mempertanyakan relevansinya dengan identitas lokal Cijulang sebagai wilayah pesisir. Namun di balik pro dan kontra tersebut, tersimpan pertanyaan yang lebih dalam: apa pesan yang sedang Allah sampaikan melalui perubahan ini. (06/01/2026)


Selama bertahun-tahun, tugu ikan dan jaring menjadi penanda kuat jati diri Cijulang. Ikan melambangkan rezeki dari laut, sementara jaring menggambarkan kebersamaan, gotong royong, dan ketergantungan manusia kepada alam ciptaan Tuhan. Simbol ini seolah mengingatkan bahwa hidup berjalan seiring ikhtiar, doa, dan tawakal.


Kini simbol itu digantikan Panser—kendaraan tempur yang identik dengan ketahanan, perlindungan, dan kekuatan. Pertanyaannya, apakah ini sekadar perubahan visual, atau isyarat bahwa Cijulang sedang memasuki fase baru yang lebih berat ujiannya.


Secara kritis, perubahan ini patut dibaca sebagai tanda pergeseran orientasi. Ketika sebuah daerah berkembang, terbuka, dan mulai banyak dilirik, maka ancamannya pun ikut bertambah—baik ancaman moral, sosial, ekonomi, maupun konflik kepentingan. Dalam konteks ini, Panser bisa dimaknai bukan sebagai simbol kekerasan, tetapi simbol kesiapsiagaan.


Namun muncul pertanyaan lanjutan yang tak kalah penting:

siapkah mental dan moral masyarakatnya?

Karena sejatinya, pertahanan terkuat sebuah daerah bukanlah besi atau baja, melainkan iman, keadilan, dan kesadaran kolektif warganya. Panser boleh berdiri kokoh di tengah alun-alun, tetapi jika nilai kejujuran, amanah, dan kepedulian sosial melemah, maka simbol itu hanya akan menjadi pajangan tanpa makna.


Filosofi lokal “Cijulang ngadeg sorangan” seharusnya menjadi ruh dari perubahan ini. Berdiri sendiri bukan berarti arogan atau menutup diri, melainkan tegak pada prinsip dan nilai, tidak mudah tunduk pada kepentingan yang merusak, serta mampu menjaga diri di tengah derasnya perubahan zaman.


Dari sudut pandang religius, setiap kejadian yang terjadi—termasuk pergantian tugu—bukanlah kebetulan. Allah berfirman bahwa Dia tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Maka pertanyaannya bukan lagi “suka atau tidak suka”, melainkan “pelajaran apa yang sedang Allah titipkan?”


Apakah Panser ini peringatan agar masyarakat tidak lengah ketika kemajuan datang?


Ataukah ujian agar kekuatan tidak berubah menjadi kesombongan?


Atau justru pengingat bahwa amanah yang besar selalu datang bersama tanggung jawab yang lebih berat?


Sering kali Allah menegur manusia bukan melalui bencana besar, tetapi melalui perubahan kecil yang luput direnungkan. Simbol berganti, zaman bergerak, dan manusia diuji: apakah tetap rendah hati, atau terlena oleh pencapaian?


Pergantian tugu di Cijulang pada akhirnya bukan hanya soal estetika kota. Ia adalah cermin.

Cermin tentang kesiapan masyarakat menjaga nilai, keadilan, dan arah hidup bersama.

Karena Cijulang ngadeg sorangan bukan diukur dari apa yang berdiri di tengah alun-alun,

melainkan dari sejauh mana warganya mampu berdiri tegak dalam kebenaran, dan tetap tunduk pada kehendak Allah./

salman

0 Komentar untuk "Pergantian Tugu Cijulang Menjadi Panser: Simbol Kemajuan, Peringatan, atau Ujian Kesadaran?"

Back To Top